Kebiasaan jajan pada anak sekolah sangat sulit untuk dihilangkan. Dari hasil penelitian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) diperoleh bahwa 98,7% anak sekolah dasar (SD) senang mengkonsumsi jajanan di sekolah. Harga yang murah, warna yang menarik, penampilan, tekstur, aroma dan rasa yang enak merupakan alasanĀ  anak menyukai jajanan, (Andhika, 2014).

Hal ini harus diwaspadai karena dari berbagai penelitian diketahui bahwa 60% jajanan anak sekolah tidak memenuhi standar mutu dan keamanan (Suci,2013). Disebutkan bahwa 56% sampel mengandung pewarna tekstil (rhodamin B) dan 33% mengandung borak. Pada tahun 2014, BPOM melakukan survei dengan melibatkan 4.500 sekolah di Indonesia dan membuktikan bahwa 45% jajanan anak sekolah berbahaya.

Fikes UHAMKA terus berupaya memberikan informasi dan edukasi di kalangan pelajar untuk mencegah pelajar dari ancaman bahan jajan berbahaya di SDN 02 Rangkasbitung Barat, pada19 Februari 2020 yang lalu dengan tujuan Memberikan edukasi kepada siswa siswi SDN Rangkasbitung barat tentang Jajanan Sehat dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Targetnya adanya perubahan pengetahuan dan sikap pada siswa siswi SD tentang jajanan sehat dan PHBS.

Tim PKM FIKES UHAMKA terus mengingatkan agar pelajar mengonsumsi  jajanan aman, sehat dan bergizi dengan memberikan ciri-ciri makanan yang tidak sehat dan tidak aman untuk dikonsumsi karena cemaran biologis, kimia dan fisik yang dapat menimbulkan berbagai penyakit. Berbagai kejadian keracunan pada anak sekolah dasar terjadi akibat mengkonsumsi makanan jajanan yang tercemar zat kimia. Hal ini perlu perhatian yang besar karena sangat berbahaya dapat berakibat fatal pada kesehatan manusia. Bahkan, bisa menimbulkan penyakit kanker, kerusakan organ tubuh dan bahkan yang paling fatal adalah kematian.

 Dibutuhkan pengetahuan tentang jajanan yang sehat dan bergizi pada anak sekolah dasar. Pendidikan kesehatan pada anak sekolah dasar bisa memberi dampak yang baik. Berdasarkan penelitian Mutmainah (2013) menyatakan bahwa pengetahuan dapat meningkat hingga 50% setelah mendapatkan pendidikan kesehatan. Didukung hasil penelitian Sitoru dkk (2015). Yang menyatakan bahwa pendidikan kesehatan dapat menambah pengetahuan sebesar 71.9%.

Tim PKM FIKES UHAMKA :
Hj. Nur Asiah SKM, M.Kes dan Alibbirwin, SKM, M.Epid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *